Thursday, January 26, 2017

Jombang Siap Gaet Investor Agropolitan



KKP Jombang, Provinsi Jawa Timur telah menjadi sentra agribisnis dan wilayah pengembangan industri yang berbasis pada potensi yang terdapat di daerahnya, hal ini tertuang dalam RTRW Kabupaten Jombang Th 2009-2028.  Kabupaten Jombang merupakan lumbung padi Provinsi Jawa Timur, dimana kurang lebih sekitar 55 persen produksi padi di daerah ini terus mengalami surplus. Bahkan 96 persen industri yang berkembang di daerah tersebut adalah industri kecil-menengah, terutama kerajinan dan makanan khas Jombang.
Dengan memiliki sentra agribisnis yang terus berkembang tahun 2015 Kabupaten Jombang berencana akan fokus dan gencar untuk menarik investor yang masuk di sektor agropolitan.
Upaya ini dilakukan karena industri di sektor pertanian yang sudah berkembang hanya pada peternakan saja, yaitu sapi potong. Sementara untuk sektor lainnya, seperti pertanian berbasis pangan dan perkebunan dan lainnya masih belum dikembangkan. Meskipun demikian Jombang tetap melakukan pengembangan, kalau sudah ada industri kecil dan industri menengah tengah menjadi besar. Pemkab Jombang belum berani memberikan berapa target investasi dan berapa besaran investasi yang ingin dicapai di sektor agropolitan, hal ini sebab upaya tersebut lebih pada penguatan ekonomi produktif.
Pengembangan agropolitan Jombang direncanakan di wilayah pengembangan Mojowarno dengan fungsi menjadi pusat agropolitan tingkat kabupaten yang meliputi kecamatan Mojowarno, kecamatan Bareng, kecamatan Wonosalam dengan luas 344,38 hektar.
Keinginan Jombang untuk menjadikan Mojowarno menjadi basis industri agropolitan karena ditunjang oleh berbagai potensi yang ada. Di Desa Bareng misalnya, menjadi basis produksi komoditas pangan seperti padi, jagung dan kedelai. Desa Ngoro menjadi basis produksi komoditas tomat dan cabe, Desa Wonosalam menjadi basis produksi komoditas buah seperti durian, mangga dan pisang. Wonosalam dan Bareng juga terkenal sebagai produsen cengkeh, kopi, nilam, dan kakao.
Tidak hanya itu, Desa Mojowarno dan Ngoro juga memiliki potensi sebagai produsen komoditas perikanan seperti ikan lele dan nila. Sementar itu, untuk sektor peternakan, Mojowarno, Wonosalam dan Ngoro juga terkenal dengan produksi sapi dan susu sapi perah. Berdasarkan komoditi unggulan yang dimiliki wilayah Mojowarno, untuk pengembangan industri hilir maka dengan itu Kabupaten Jombang akan membuat beberapa kluster sedikitnya 6 kluster akan disiapkan guna mendukung program Kabupaten Jombang tersebut.
Keenam kluster tersebut diantaranya adalah kluster Industri pengolahan tanaman pangan dengan jenis komoditi industri berupa beras, beras jagung dan susu kedelai di desa Bareng dengan industri skala kecil. Kluster kedua adalah industri pengoalahan tanaman pangan dengan jenis komoditi berupa tepung beras, gula rendah kalori berbahan jagung dan susu kedelai. Industri yang diirikan ini berskala menengah besar.
Ketiga kluster industri pengolahan sayur dengan jenis komoditi industri berupa saos cabe, saos tomat, cabe bubuk, Cabe kering atau bawang goreng untuk industri skala kecil di desa Ngoro. Selain itu, ada juga kluster industri pengolahan sayuran skala menengah dan besar dengan pusat pengembangan di kawasan industri Mojowarno.
Kabupaten Jombang saat ini menjadi salah satu daerah yang cukup diminati oleh investor. Di tahun ini saja, dari total target investasi yang ditetapkan sebesar Rp900 miliar, pencapaiannya hingga akhir 2014 mencapai Rp 1,5 triliun. Pemerintah Jombang berharap tahun depan akan lebih banyak lagi investor yang datang ke Kabupaten Jombang untuk menanamkan modalnya didaerah tersebut terutama di sektor agropolitan.
Agustinus Purba/Jurnalis/VM/BD

Air Terjun Wonosalam

Keindahan Alam Yang tersembunyi.

 Mungkin Anda tak mengenalnya, bahkan mesin pencari google hingga kinipun belum mendeteksinya. Ya, Air Terjun Sekelip ini memang belum dikenal selayaknya Air Terjun Tretes di Pengajaran yang sama-sama di wilayah Kecamatan Wonosalam, karena baru "dipoles" secara swadaya oleh masyarakat Dusun Carangwulung, Desa Carangwulung, Kecamatan Wonosalam, Jombang sejak sekitar 6 bulan terakhir. Dan setelah mendapat polesan terutama akses jalannya dan pemasangan papan penunjuk jalan pengunjung mulai banyak berdatangan. Kondisinya memang masih sangat sederhana karena “polesan” warga masih sangat “kasar”. Dihari minggu atau hari libur lainnya, pengunjungnya bisa mencapai ratusan orang yang didominasi anak-anak muda.

Sebenarnya air terjun ini sudah ada sejak dulu. Saya sendiri pertama kali mengunjungi air terjun ini sekitar tahun 1994-an yang lalu. Waktu itu kondisi jalannya sangat sulit pada sekitar 500 meter mendekati lokasi. Lokasinya yang berada di lemah, dengan hanya jalan setapak yang kalau hujan sangat licin masuk kawasan hutan. Sementara kondisi jalan di perkampungan atau jalan itu, sepanjang sekitar 1 km belum beraspal. Hanya berupa jalan berbatu yang lagi-lagi diusahakan secara swadaya masyarakat plus uluran dari beberapa pemilik perkebunan. 

Selain itu, kondisi air ketika itu sangat keruh, karena hutan di atasnya sedang dalam proses “peralihan” tanaman dari hutan heterogen dengan dominasi pohon jati dan banyak tanaman keras lainnya (gondang, bendo, mahoni, kemiri dan sebagainya serta tnaman perdu semacam kalindra, secang dan tanaman pahitan) menjadi hutan homogen dengan tanaman pohon gemelina yang cepat panen.

Kemudian tahun 2000-an, setelah masa tebang untuk tanaman gemelina, ditanami lagi dengan pohon pinus yang hingga saat ini sudah mulai rimbun dan hampir semua tajuknya nyaris tak bisa ditembus sinar matahari dan membuat tutupan tanah sangat rapat. Akibatnya, setiap hujan, muka tanah tak tergerus lagi oleh aliran air hujan, dan air yang mengalir ke sungai tak lagi keruh. Sejak saat itulah, air sungai yang membelah hutan pinus dan menjadi sumber Air Terjun Sekelip tidak lagi terlalu keruh. Warga pun mulai berinisiatif menata kembali untuk dijadikan obyek wisata. 

Untuk sementara yang dibangun adalah tempat parkir dan sarana jalan sepanjang kurang lebih 400 meter untuk bisa dilintasi motor serta pembersihan perdu di kanan-kiri jalan serta di lokasi sekitar air terjun. Ada juga pembangunan jalur di tengah hutan yang selama ini jadi lintasan para pencari rumput, dikembangkan lagi  untuk bisa dilintasi motor trail (tracking) yang mungkin ini dijadikan sarana teman-teman di kampung untuk menyalurkan "bakat alamnya" (motor cross) yang selama ini jarang tersalurkan.
Lokasi air terjun ini sebenarnya tak terlalu jauh dari jalan utama yang menghubungkan Wonosalam-Mojokerto, yaitu sekitar 1,5 km. Sepanjang 1 km jalan beraspal kemudian jalan kecil yang sedikit dikeraskan oleh warga sekitar 200 meter dan masih bisa dilalui motor hingga ke tempat parkir sederhana yang juga dikelola warga. Kemudian sisanya sepanjang 300 meter bisa dilanjutkan dengan jalan kaki.

Air terjun sekelip ini sebenarnya cukup unik, meskipun tak terlalu tinggi (sekitar 15 meter) tetapi bertingkat dua. Di atas air terjun yang pertama ada lagi air terjunnya dengan kedalaman kolam yang cukup dalam. Kemudian beberapa meter dari kolam pertama, ada air terjunnya lagi yang lebih tinggi dengan kolam tak terlalu dalam. Pada musim hujan seperti saat ini, kondisi air memang tak terlalu jernih dan sangat deras dan besar debit airnya. Padahal dengan kondisi kolam yang dalam dan banyak lumpur ini tentu sangat berbahaya.
Hingga saat ini, kondisi air terjun ini memang sangat alami dan tak ada sentuhan sama sekali dari pemerintah. Sejak beberapa tahun lalu memang ada wacana mengembangkan kawasan ini menjadi tempat wisata baru, termasuk juga membangun kawasan agrowisata disekitarnya. Sayanganya wacana itu hingga saat ini tetap abadi menjadi wacana. Air Terjun Sekelip tetap saja terselip kondisinya, tak jauh ubahnya dengan Air Terjun Tretes di Pengajaran yang juga kurang diperhatikan. Padahal, kalau saja mendapat sentuhan sedikit saja, tentu ini bisa menjadi obyek wisata yang menarik dan terutama sumber ekonomi baru, baik bagi pemerintah daerah maupun masyarakat sekitanya