KKP Jombang, Provinsi Jawa Timur telah menjadi sentra agribisnis dan wilayah pengembangan industri yang berbasis pada potensi yang terdapat di daerahnya, hal ini tertuang dalam RTRW Kabupaten Jombang Th 2009-2028. Kabupaten Jombang merupakan lumbung padi Provinsi Jawa Timur, dimana kurang lebih sekitar 55 persen produksi padi di daerah ini terus mengalami surplus. Bahkan 96 persen industri yang berkembang di daerah tersebut adalah industri kecil-menengah, terutama kerajinan dan makanan khas Jombang.
Dengan memiliki sentra agribisnis yang terus berkembang tahun 2015 Kabupaten Jombang berencana akan fokus dan gencar untuk menarik investor yang masuk di sektor agropolitan.
Upaya ini dilakukan karena industri di sektor pertanian yang sudah berkembang hanya pada peternakan saja, yaitu sapi potong. Sementara untuk sektor lainnya, seperti pertanian berbasis pangan dan perkebunan dan lainnya masih belum dikembangkan. Meskipun demikian Jombang tetap melakukan pengembangan, kalau sudah ada industri kecil dan industri menengah tengah menjadi besar. Pemkab Jombang belum berani memberikan berapa target investasi dan berapa besaran investasi yang ingin dicapai di sektor agropolitan, hal ini sebab upaya tersebut lebih pada penguatan ekonomi produktif.
Pengembangan agropolitan Jombang direncanakan di wilayah pengembangan Mojowarno dengan fungsi menjadi pusat agropolitan tingkat kabupaten yang meliputi kecamatan Mojowarno, kecamatan Bareng, kecamatan Wonosalam dengan luas 344,38 hektar.
Keinginan Jombang untuk menjadikan Mojowarno menjadi basis industri agropolitan karena ditunjang oleh berbagai potensi yang ada. Di Desa Bareng misalnya, menjadi basis produksi komoditas pangan seperti padi, jagung dan kedelai. Desa Ngoro menjadi basis produksi komoditas tomat dan cabe, Desa Wonosalam menjadi basis produksi komoditas buah seperti durian, mangga dan pisang. Wonosalam dan Bareng juga terkenal sebagai produsen cengkeh, kopi, nilam, dan kakao.
Tidak hanya itu, Desa Mojowarno dan Ngoro juga memiliki potensi sebagai produsen komoditas perikanan seperti ikan lele dan nila. Sementar itu, untuk sektor peternakan, Mojowarno, Wonosalam dan Ngoro juga terkenal dengan produksi sapi dan susu sapi perah. Berdasarkan komoditi unggulan yang dimiliki wilayah Mojowarno, untuk pengembangan industri hilir maka dengan itu Kabupaten Jombang akan membuat beberapa kluster sedikitnya 6 kluster akan disiapkan guna mendukung program Kabupaten Jombang tersebut.
Keenam kluster tersebut diantaranya adalah kluster Industri pengolahan tanaman pangan dengan jenis komoditi industri berupa beras, beras jagung dan susu kedelai di desa Bareng dengan industri skala kecil. Kluster kedua adalah industri pengoalahan tanaman pangan dengan jenis komoditi berupa tepung beras, gula rendah kalori berbahan jagung dan susu kedelai. Industri yang diirikan ini berskala menengah besar.
Ketiga kluster industri pengolahan sayur dengan jenis komoditi industri berupa saos cabe, saos tomat, cabe bubuk, Cabe kering atau bawang goreng untuk industri skala kecil di desa Ngoro. Selain itu, ada juga kluster industri pengolahan sayuran skala menengah dan besar dengan pusat pengembangan di kawasan industri Mojowarno.
Kabupaten Jombang saat ini menjadi salah satu daerah yang cukup diminati oleh investor. Di tahun ini saja, dari total target investasi yang ditetapkan sebesar Rp900 miliar, pencapaiannya hingga akhir 2014 mencapai Rp 1,5 triliun. Pemerintah Jombang berharap tahun depan akan lebih banyak lagi investor yang datang ke Kabupaten Jombang untuk menanamkan modalnya didaerah tersebut terutama di sektor agropolitan.
Agustinus Purba/Jurnalis/VM/BD
